Review ‘The Devil All the Time’: Tom Holland Bikin Kaget!

review the devil all the time

Tadinya saya berpikir menulis review The Devil All the Time bakal menyenangkan karena dibintangi Tom Holland. Ternyata dugaan saya meleset.

Kenapa tadinya saya anggap menyenangkan? Bisa dibilang saya terjebak pada sosok kekanakan dan keluguan Tom Holland sebagai Spider-Man. Jadi, begitu saya menyaksikan dia dalam karakter yang sangat jauh berbeda dari Peter Parker, saya agak bergidik.

Diadaptasi dari novel karya Donald Ray Pollock yang juga dilibatkan sebagai narator, The Devill All the Time bisa dibilang sebuah film yang plotnya berjalan lambat. Jika tidak dalam kondisi yang “bugar” banget, dipastikan akan tertidur di tengah durasi.

the devil all the time
Tom Holland masih seimut Peter Parker, tapi … (foto: Netflix)

Berlatar tahun 1950-an di kawasan Ohio dan West Virginia, film ini menawarkan ketegangan yang cukup lambat, tapi mengigit hingga akhir. Ketegangan juga dibangun oleh suasana yang digambarkan film ini, di mana segalanya tampak suram dan sepi.

The Devil All the Time seperti mengungkapkan kehidupan beberapa orang dengan cara yang mengejutkan. Sebut saja veteran perang Willard Russel (Bill Skarsgard) yang sangat regilius namun ketika istrinya meninggal karena sakit kanker, dia menjadi orang yang sangat keji.

Sang anak, Arvin (Tom Holland) akhirnya diasuh oleh neneknya yang juga membesarkan seorang perempuan yang bernama Lenora (Eliza Scanlen), ketika kedua orang tuanya, Helen (Mia Wasikowska) dan Roy (Harry Melling) menghilang.

Baca juga: Tanpa Channing Tatum, Film ‘Gambit’ ini Tetap Keren

Di tempat yang berbeda, ada pasangan pembunuh berantai, Carl (Jason Clarke) dan Sandy (Riley Keough) dan Sherrif Lee Boedecker (Sebastian Stan) yang korup. Kehadiran Pendeta Preston Teagardin (Robert Pattinson) dan perjumpaannya dengan Arvin bagaikan penghubung antar satu tokoh dan tokoh lainnya.

Penuh Adegan Kekerasan

the devil all the time robert pattinson
Penampilan Robert Pattinson di ‘The Devil All the Time’ (foto: Netflix)

Meskipun cerita berjalan lambat, penampilan para pemain membuat The Devil All the Time layak dinikmati dengan durasinya yang 2 jam lebih. Terutama Tom dan Robert yang mampu memberikan penampilan yang tak terlupakan setelah film berakhir.

Jujur saja, saya hampir tidak bisa melihat sedikitpun bahasa tubuh ala Peter Parker dari Tom Holland di film ini. Kecuali wajah imutnya yang memang sangat khas, cara bicara dan lagaknya sangat jauh berbeda dari bayangan saya.

Memang sih film ini menawarkan wajah imut Tom seperti menonton Spider-Man, tapi yang patut dicatat, The Devil All the Time menampilkan banyak adegan kekerasan dan cerita yang terbilang mengerikan. Kita dipaksa untuk memasuki kekerasan demi kekerasan di sepanjang durasi.

Sayangnya, dengan segala potensi yang ada, misalnya dari cast dan cerita, film yang disutradarai Antonio Campos ini terbilang sangat berat untuk dinikmati dan dengan berat hati saya berani bilang: membosankan.

Namun, berhubung film ini bisa ditonton lewat platform streaming Netflix, tidak ada salahnya ditonton. Toh, kalaupun merasa rugi, hanya dari waktu saja bukan dari biaya tiket.

Fun Facts

  • Meskipun dibayar paling mahal, Tom Holland baru muncul di menit ke-46.
  • Chris Evans sebenarnya mendapatkan peran sebagai Deputy Lee Bodecker, hanya saja dia akhirnya mundur dari peran tersebut hingga akhirnya diambil Sebastian Stan, aktor yang merupakan teman akrab di film MCU.
  • Robert Pattinson dan Sebastian Stan terlihat gemuk karena menggunakan “tambalan” di balik bajunya.
  • Tom Holland dan Robert Pattinson pernah beradu akting di film The Lost City of Z yang dirilis tahun 2016.
  • Tom Holand dan Sebastian Stan tercatat telah membintangi beberapa film MCU, di antaranya Captain America: Civil War, dan Avengers: Infinity War, Avengers: Endgame.
  • Cast
  • Plot
  • Cinematography
  • Music Score
3.8

Summary

Dngan segala potensi yang ada, misalnya dari cast dan cerita, film yang disutradarai Antonio Campos ini terbilang sangat berat untuk dinikmati dan dengan berat hati saya berani bilang: membosankan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *